Visi Misi

Visi, Misi, Faktor Penentu Keberhasilan, Tujuan dan Sasaran dan Rencana Kerja Tahunan Dinas Peternakan Provinsi Nusa Tenggara Timur

Dalam kerangka pola pikir yang baru yakni berpikir cerdas, kreatif dan inovatif, bekerja keras dan tuntas, bertindak cepat dan tepat, mempertimbangkan  dampak krisis dan pengalaman pembangunan era reformasi serta adanya pengembangan otonomi daerah maka Dinas Peternakan Provinsi Nusa Tenggara Timur telah menyusun Visi, Misi, Faktor Penentu Keberhasilan, Tujuan dan Sasaran dan Rencana Kerja Tahunan Dinas Peternakan Provinsi Nusa Tenggara Timur  sebagai berikut:

V i s i

Visi Dinas Peternakan Provinsi Nusa Tenggara Timur adalah “Terwujudnya masyarakat Nusa Tenggara Timur yang berkualitas dan sejahtera melalui pembangunan peternakan yang berdayasaing dan berkelanjutan dengan mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya lokal”.

Rumusan pernyataan visi tersebut di atas mempunyai makna yang dapat dijelaskan sebagai berikut:

Rumusan pernyataan visi tersebut di atas mempunyai makna yang dapat dijelaskan sebagai berikut:

  • Masyarakat Nusa Tenggara Timur, adalah suatu penegasan konsep sosiologis dan ekonomis bahwa sumberdaya insani merupakan subyek dan obyek pembangunan yang merupakan pelaku utama dan partisipan utama dalam peran aktifnya meningkatkan kinerja pembangunan peternakan daerah;
  • Berkualitas, mencerminkan indikator Indeks Pembangunan Manusia (IPM) terkait pendidikan dan kesehatan sebagai dampak dari pembangunan peternakan;
  • Sejahtera, merupakan  indikator Indeks Pembangunan Manusia (IPM) terkait pembangunan ekonomi, khususnya dalam hal peningkatan pendapatan peternak untuk memenuhi kebutuhan hidupnya;
  • Berdayasaing, mengandung makna bahwa komoditas dan produk peternakan yang dihasilkan dalam proses pembangunan daerah harus memiliki keunggulan komparatif maupun kompetitif;
  • Berkelanjutan, mengandung arti bahwa sub sektor peternakan harus mampu menghadapi dinamika perubahan lingkungan strategis, baik lingkungan internal maupun eksternal, serta tetap eksis dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya dengan memanfaatkan sumberdaya yang tersedia;
  • Sumberdaya Lokal, dimaknai sebagai sumberdaya non insani yang berasal dari berbagai kabupaten / wilayah  di Nusa Tenggara Timur, baik yang berupa sumberdaya hewani (ternak), lahan, air, pakan, modal pendanaan, teknologi dan sarana prasarana maupun kearifan sosial budaya atau adat istiadat yang sinergis dan mendukung pembangunan peternakan serta  mampu beradaptasi dengan kondisi biofisik dan agroklimat wilayah.

M i s i

  1. Peningkatan profesionalisme aparatur serta peningkatan kualitas sumberdaya manusia peternak dan pelaku usaha bidang peternakan;
  1. Peningkatan profesionalisme aparatur serta peningkatan kualitas sumberdaya manusia peternak dan pelaku usaha bidang peternakan;
  2. Peningkatan populasi ternak serta produksi ternak dan hasil ternak;
  3. Peningkatan pencegahan dan pemberantasan penyakit hewan menular strategis;
  4. Peningkatan ketersediaan pangan asal ternak yang Aman, Sehat, Utuh dan Halal  (ASUH);
  5. Peningkatan kualitas dan ketersediaan sarana prasarana input produksi, teknologi, pembiayaan, koordinasi dan kerjasama serta data dan informasi penunjang pembangunan peternakan;
  6. Peningkatan skala kepemilikan ternak, usahatani ternak serta usaha pengolahan dan pemasaran hasil ternak / hasil ikutan.

Dari rumusan Misi tersebut di atas, maka yang dimaksud dengan:

  1. Peningkatan profesionalisme aparatur serta peningkatan kualitas sumberdaya manusia peternak dan pelaku usaha bidang peternakan mengandung arti bahwa profesionalisme aparatur pemerintah merupakan nilai-nilai utama pelaksanaan pekerjaan sesuai tugas pokok dan fungsi secara bertanggungjawab berdasarkan sasaran / output yang telah ditetapkan secara efisien dan efektif. Selain itu, peternak dan pelaku usaha bidang peternakan juga perlu ditingkatkan kapasitas dan kapabilitasnya, baik pengetahuan maupun keterampilannya dalam mengelola usahatani ternak maupun usaha pengolahan dan pemasaran ternak / hasil ternak;
  2. Peningkatan populasi ternak serta produksi ternak dan hasil ternak merupakan intisari kinerja pembangunan peternakan daerah melalui penerapan teknik dan manajemen yang baik (good breeding practice, good farming practice, good handling practice) untuk peningkatan populasi (15 jenis  ternak), produksi ternak (bibit dan bakalan) serta produksi hasil ternak (daging, telur dan susu). Peningkatan populasi ini dilakukan dengan pendekatan agribisnis, mulai subsistem hulu (input produksi), subsistem budidaya (on farm), subsistem hilir (pascapanen, pengolahan dan pemasaran) serta lembaga penunjang;
  3. Peningkatan pencegahan dan pemberantasan penyakit hewan menular strategis secara khusus ingin menegaskan bahwa penyakit hewan menular strategis berpengaruh negatif terhadap kinerja pembangunan peternakan, dan oleh karena itu harus dilakukan pencegahan dan pemberantasan secara terpadu. Pemberantasan penyakit hewan juga memiliki arti penting bagi perkembangan ekonomi daerah oleh karena sifat zoonosisnya serta dampaknya bagi ketentraman hidup masyarakat;
  4. Peningkatan ketersediaan pangan asal ternak yang Aman, Sehat, Utuh dan Halal (ASUH) dimaknai sebagai upaya untuk mencapai kecukupan ketersediaan pangan hewani asal ternak, stabilitas ketersediaan pangan hewani asal ternak, serta keamanan pangan dari produk peternakan berkualitas yang Aman, Sehat, Utuh, dan Halal (ASUH);
  5. Peningkatan kualitas dan ketersediaan sarana prasarana input produksi, teknologi, pembiayaan, koordinasi dan kerjasama serta data dan informasi penunjang pembangunan peternakan merupakan upaya peningkatan partisipasi dan dukungan lembaga penunjang pembangunan peternakan serta faktor-faktor off farm lainnya dalam rangka peningkatan populasi dan produksi ternak, minimalisasi biaya produksi, serta penyediaan data dan informasi yang valid dan up to date;
  6. Peningkatan skala kepemilikan ternak, usahatani ternak serta usaha pengolahan dan pemasaran hasil ternak/hasil ikutan ditujukan bagi peningkatan skala kepemilikan ternak, skala usahatani (tipologi usaha) serta usaha pengolahan dan pemasaran produk ternak untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk peternakan dengan tujuan peningkatan pendapatan petani ternak.