Pembuatan Silase

Ternak adalah salah satu komoditi andalan Propinsi Nusa Tenggara Timur. Pengembangan ternak sangat ditentukan oleh daya dukung wilayah, khususnya ketersediaan pakan berupa hijauan pakan (rumput dan leguminosa) dan limbah pertanian/perkebunan. Hijauan pakan ternak dapat bersumber dari rumput alam maupun rumput yang dibudidayakan.  Permasalahan utama dalam budidaya ternak ruminansia adalah tidak terpenuhinya jumlah dan kecukupan nilai nutrisi yang disebabkan ketersediaaan pakan yang tidak terus menerus (kontinyu) sepanjang tahun.

Pengolahan pakan ternak secara basah yang dikenal dengan silase adalah pakan yang telah diawetkan dan diproses dari bahan baku  berupa tanaman hijauan, limbah industri pertanian, serta bahan pakan alami lainnya, dengan jumlah kadar/ kandungan  air pada tingkat tertentu, kemudian dimasukkan dalam sebuah tempat yang tertutup rapat kedap udara  yang biasa disebut dengan silo (drum, bak, atau kantong plastik), selama tiga minggu. Silase yang terbentuk karena proses fermentasi ini dapat disimpan untuk jangka waktu yang lama tanpa banyak mengurangi kandungan nutrisi dari bahan bakunya.

Pelaksanaan Pembuatan Silase ini dilakukan beberapa tahap antara lain:

  1. Persiapan Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang dibutuhkan dalam melakukan pengolahan pakan ternak secara basah (silase) adalah :

  • Cooper atau alat potong
  • Drum atau plastik
  • Terpal
  • Rumput/Limbah Pertanian
  • Dedak padi
  • Gula aren / Gula lontar
  • EM4 untuk peternakan
  • Air secukupnya
  • Cara Kerja :
  • Rumput/limbah pertanian dipotong dan dilayukan kurang lebih 12 – 24  jam
  • Rumput/limbah pertanian yang telah layu dicacah
  • Siapkan air dicampur dengan gula dan EM4 dengan perhitungan sebagai berikut EM4 1 liter digunakan untuk rumput/limbah pertanian 1000 kg sedangkan air disesuaikan dengan kondisi rumput/limbah pertanian.
  • Rumput/limbah pertanian dicampur dengan dedak padi kemudian dibasahi dengan air yang sudah tercampur dengan gula dan EM4.
  • Masukan ke drum atau plastik dan ditekan hingga padat
  • Simpan di tempat teduh
  • 21 hari Silase sudah dapat diberikan kepada ternak

Apabila proses pengawetan dilakukan dengan baik dan benar maka silase akan bertahan sampai 2 tahun.


Selasa , 07 Dec 2021, 15:25 WIB
Red: Fernan Rahadi
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Anggota DPR RI, Muhammad Rapsel Ali mengusulkan kepada pemerintah agar membangun Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) untuk industri peternakan. Wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Sulawesi Selatan menurut dia adalah opsi terbaik.
Sejauh ini, Indonesia sudah memiliki setidaknya 19 KEK yang tersebar di seluruh Indonesia. Dari jumlah itu, 12 sudah beroperasi sementara tujuh lainnya masih dalam proses pembangunan.
Dengan potensi yang dimilikinya, NTT dan Sulsel, menurut politisi Nasdem itu, seharusnya juga ditetapkan sebagai salah satu KEK. Khususnya dalam rangka mendukung pengembangan industri strategis nasional.
“Kalau kita lihat dari potensi kedua daerah ini dan pengembangan industri strategis nasional, maka seharusnya kita menetapkan satu Kawasan Ekonomi Khusus industri peternakan di Sulawesi Selatan atau di NTT,” kata Rapsel pekan lalu.
NTT sejak dulu dikenal sebagai lumbung ternak nasional. Pada masa lalu, NTT bahkan pernah berjaya di bidang ternak dengan memasok sapi hingga ke Hongkong.
Sementara Sulsel saat ini tengah berusaha menjadi lumbung daging nasional. Target itu didukung lahan yang sangat luas dan potensial untuk pengembangan peternakan.
“Jadi bukan hanya membangun kawasan food estate (Industri Pertanian) maupun fish estate (Industri Perikanan), tetapi juga harus disiapkan cattle estate (Industri Peternakan),” jelas Rapsel.
Menurut Rapsel, dirinya sangat optimistis dengan masa depan industri strategis nasional jika ini bisa dilakukan. Ia pun percaya Indonesia bisa menjadi superhub pangan dunia.
“Saya yakin Indonesia mampu membangun kawasan tersebut masing-masing sebagai kawasan industri yang integrated sehingga negara kita ke depan menjadi superhub pangan dunia,” kata pendiri Asosiasi Pemerintah Daerah Kepulauan dan Pesisir Seluruh Indonesia (Aspeksindo) tersebut.
Bagi Rapsel, industri pangan bisa menjadi kekuatan ekonomi Indonesia beberapa tahun ke depan. Alasannya, dengan jumlah penduduk dunia yang sudah begitu besar, itu akan menjadi potensi pasar luar biasa.
Data United Nation menyebutkan bahwa jumlah penduduk dunia di 2020 mencapai 7,7 miliar orang. Sementara pada 2030, penduduk dunia diperkirakan akan tumbuh hingga 8,5 miliar dan 9,7 miliar pada 2050.
“Ada sejumlah populasi dunia yang butuh makanan minuman yang berkualitas. Jika negara kita mampu mensuplay 15 persen saja maka miliaran dolar devisa potensial akan mengalir ke Indonesia setiap bulannya,” katanya.

Sabtu 14 Dec 2019 14:48 WIB

Mentan Syahrul Yasin Limpo melepas Ekspor Komoditi Pertanian dan Pengiriman Sapi dari NTT dengan Tol Laut serta Penyerahan Bantuan kepada Petani NTT tahun 2020, di Pelabuhan Tenau, Kota Kupang, Sabtu 14 Desember 2019.

REPUBLIKA.CO.ID, KUPANG — Kementerian Pertanian (Kementan) dan Pemerintah Daerah Nusa Tenggara Timur (Pemda NTT) memiliki komitmen untuk menjalankan Gerakan Tiga Kali Ekspor (Gratieks). Hal ini ditandai dengan ditandatangani Nota Kesepahaman tentang peningkatan populasi dan produksi dalam rangka percepatan ekspor komoditi peternakan antara Kementan melalui Direktorat  Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan dengan Gubernur Provinsi NTT.

Menurut Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL), kesepakatan ini didasari adanya keinginan bersama dengan mensinergikan potensi, tugas, fungsi dan kewenangan dan program yang ada.

“Kita sepakat bekerja sama untuk mewujudkan peningkatan populasi dan produksi dalam rangka ekspor komoditi peternakan. Apalagi NTT merupakan salah satu lumbung ternak sapi Nasional dan Kabupaten Kupang merupakan salah satu daerah penyuplai terbesar kebutuhan protein hewani,” kata Syahrul setelah melepas Ekspor Komoditi Pertanian dan Pengiriman Sapi dari NTT dengan Tol Laut serta Penyerahan Bantuan kepada Petani NTT tahun 2020, di Pelabuhan Tenau, Kota Kupang, Sabtu 14 Desember 2019.

Kebutuhan daging sapi nasional menurut SYL, sangat tinggi sehingga memerlukan dukungan dari daerah-daerah penghasil ternak sapi, dalam upaya pemerintah mewujudkan ketahanan pangan untuk komoditas daging sapi.

Upaya ini tidak sebatas hanya pada kemampuan dalam menyediakan pangan yang cukup bagi masyarakatnya saja tetapi juga harus disertai dengan peningkatan kualitas konsumsi pangan masyarakat yang berbasis sumberdaya lokal.

 “Kita perlu menggerakkan seluruh sumber daya yang dimiliki termasuk kontribusi daerah dalam pembangunan peternakan,” ungkap SYL.

Lebih lanjut SYL menjelaskan dalam kesepakatan ini, Kementan menegaskan komitmen NTT untuk mampu meningkatan produksi komoditas peternakan antara lain sapi potong dan unggas minimal tujuh persen pertahun yang artinya  terjadi peningkatan penyerapan tenaga kerja subsektor peternakan dan kesehatan hewan. 

“Kami mendukung pembangunan pertanian di NTT. Oleh karena itu, sarana prasarana dan pengembangan komoditas menjadi prioritas. Tapi harus sesuai dengan agroklimat dan ekosistem agar bisa berkembang,” ujar SYL

Berdayakan peternak rakyat untuk peternak sejahtera

Sektor pertanian, menurut SYL memiliki peranan strategis di dalam pembangunan nasional untuk pemenuhan kebutuhan pangan dan mendukung peningkatan pertumbuhan ekonomi yang mengacu dengan arah kebijakan jangka menengah pembangunan pertanian nasionl.

Untuk itu, Gubernur NTT,  bertekad menjadikan peternak NTT menjadi raja di negeri ini. “Kami mengharapkan peternak rakyat kedepan menguasai daging premium dan Indonesia tidak lagi mengimpor daging premium” ungkap Viktor.

Viktor juga menjelaskan kejayaan daging NTT yang membanjiri pasar Hongkong ingin  kembali diwujudkan. Dalam upaya pemberdayaan peternak di Provinsi NTT untuk tahun 2019,  SYL menyampaikan bahwa Kementan telah memfasilitasi pada beberapa kabupaten di NTT dengan rincian sebagai berikut Sapi Potong sebanyak 25 ekor dan Kambing  sebanyak 25 Ekor di Kabupaten Belu, Sapi potong sebanyak 50 ekor dan babi sebanyak 200 ekor di kabupaten Malaka, dan kambing sebanyak 20 ekor di kabupaten Sumba Barat Daya.

“Insya Allah, kedepannya potensi dan tantangan di pertanian dan peternakan dapat kita selesaikan. Semua peluang upaya harus dilakuakn. Termasuk kerjasama dengan perguruan tinggi. Insimenasi buatan untuk sapi juga perlu digenjot, karena kebutuhan daging terutama di akhir tahun menjelang Natal dan tahun baru, biasanya cukup tinggi. Kita ada dana KUR, nilainya 50 triliun dengan bunga rendah, hanya enam persen. Silahkan Pak Gubernur manfaatkan untuk membantu peternak dan petani. Dan Kostratani selain dipersiapkan untuk mengelola dan pengawasan, juga dipersiapkan  untuk membuat ekosistem pertanian yang baik. Dengan teknologi IT membantu pertanian lebih smart,” ujar SYL.

Pada kegiatan ini, Kementan telah melakukan pelepasan kapal ternak (selama tahun 2019 sebanyak 63 ribu sapi dikirim juga dilakukanpoenyerahan simbolis bantuan sapi potong sebanyak 75 ekor, ayam KUB sebanyak 200 ekor, alat dan mesin pertanian (traktor, pompa air, kendaraan operasional), bibit dan benih tanaman, juga dilakukan penyerahan sertifikat ekspor penyerahan KUR dan AUTS.

Christine Novita Nababan | CNN Indonesia
Kamis, 26 Nov 2020 12:02 WIB

Jakarta, CNN Indonesia — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) akan membangun pabrik pakan ternak di Pulau Timor untuk mendukung pembangunan sektor peternakan di wilayahnya.
“Tim penyusun studi kelayakan pembangunan pabrik industri pakan ternak sedang melakukan persiapan dan dipastikan terealisasi pada 2021 nanti,” terang Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat, seperti dilansir Antara, Kamis (26/11).

Ia mengatakan proses pembuatan pakan ternak di NTT dilakukan dari bahan dasar jagung dan marungga, termasuk juga limbah ikan yang akan diproses menjadi tepung ikan.

Menurut Viktor, persediaan bahan baku telah tersedia dengan baik. Karenanya, proses pembangunan pabrik sudah bisa dilakukan dan perlu didukung dengan kajian bisnisnya.

“Begitu persediaan bahan baku ada, rantai nilainya sudah ada, data hasil penelitiannya cukup, ukuran bisnisnya ada, berarti pabrik pakan ternak di NTT sudah bisa dibangun,” imbuhnya.

Ia juga ingin memastikan ada suplai yang mendukung pembangunan pabrik. “Pengusaha yang akan bekerja sama harus memperhatikan dengan benar, sehingga ada kejelasan dan pabrik ini berjalan dengan baik,” jelasnya.

Diharapkan, NTT mampu menyediakan pakan ternak ayam dan babi. Ke depan, memproduksi pakan ikan.

Ronal – Senin, 16 Desember 2019 08:49

Pasardana.id – Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo menyatakan siap menyambut potensi wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk bisa meningkatkan populasi dan produksi komoditas peternakan.

Menurutnya, pengelolaan yang maksimal dinilai bisa memberikan dampak signifikan terutama dalam pemenuhan pasar ekspor. Karena itu, dirinya akan melakukan Gerakan tiga kali ekspor (Gratieks).

Tak hanya itu, nota kesepahaman tentang peningkatan populasi dan produksi untuk percepatan ekspor komoditi peternakan pun telah dilakukan antara Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan dengan Gubernur Provinsi NTT Viktor Bungtilu Laiskodat. 

“Kami sepakat bekerjasama untuk mewujudkan peningkatan populasi dan produksi dalam rangka ekspor komoditas peternakan. Apalagi NTT merupakan salah satu lumbung ternak sapi Nasional dan Kabupaten Kupang merupakan salah satu daerah penyuplai terbesar kebutuhan protein hewani,” kata Syahrul melalui keterangan tertulisnya, Minggu, (15/12/2019). 

Dalam nota kesepakatan ini, Pemprov NTT harus mampu meningkatan produksi komoditas peternakan antara lain sapi potong dan unggas minimal 7 persen per tahun. Dorongan ini juga dimaksudkan agar terjadi peningkatan penyerapan tenaga kerja subsektor peternakan dan kesehatan hewan. 

“Kami mendukung pembangunan pertanian di NTT. Oleh karena itu, sarana prasarana dan pengembangan komoditas menjadi prioritas, tapi harus sesuai dengan agroklimat dan ekosistem agar bisa berkembang,” ujar Syahrul.  

Kementan akan terus memfasilitasi peternak di berbagai wilayah di NTT dengan memberikan bibit unggulan untuk bisa dikembangkan. Syahrul menegaskan jumlah bantuan dan pendampingan akan ditingkatkan pada 2020 sebagai langkah percepatan produksi. 

“Semua peluang upaya harus dilakukan termasuk kerja sama dengan perguruan tinggi, insemenasi buatan untuk sapi juga perlu digenjot, karena kebutuhan daging terutama di akhir tahun menjelang Natal dan tahun baru biasanya cukup tinggi,” tuturnya. 

Syahrul juga menekankan para peternak tak ragu memanfaatkan akses permodalan di program kredit usaha rakyat (KUR). Saat ini, prioritas telah dialokasikan untuk sektor peningkaan produksi pertanian dan peternakan. 

“Kita ada dana KUR, nilainya Rp50 triliun dengan bunga rendah, hanya 6 persen. Silahkan Pak Gubernur manfaatkan untuk membantu peternak dan petani. Kostratani selain dipersiapkan untuk mengelola dan pengawasan, juga dipersiapkan untuk membuat ekosistem pertanian yang baik dengan teknologi IT membantu pertanian lebih smart,” ungkapnya. 

Kebutuhan daging sapi nasional juga masih besar untuk diisi produk dalam negeri dengan harga jual yang kompetitif. Dukungan Pemerintah NTT pun diyakini bisa mewujudkan ketahanan pangan terutama untuk komoditas daging sapi yang masih banyak diimpor. 

“Kita perlu menggerakkan seluruh sumber daya yang dimiliki termasuk kontribusi daerah dalam pembangunan peternakan,” tuturnya. 

Sementara itu, Gubernur NTT Viktor Laiskodat bertekad menjadikan peternakan di wilayahnya jadi yang terbesar di Indonesia. Pengelolaan sapi akan dibuat modern agar memenuhi kebutuhan pasar potensial, termasuk daging premium. Viktor juga menginginkan kejayaan daging dari NTT yang pernah membanjiri pasar Hongkong agar bisa kembali diwujudkan.
 
“Kami mengharapkan peternak rakyat kedepan menguasai daging premium dan Indonesia tidak lagi mengimpor daging premium” tandas Viktor.


Reporter: Antara
Editor: Martha Warta Silaban
Selasa, 20 Juli 2021 14:56 WIB

Petugas memberi minum pada hewan ternak di Argo Edukasi Wisata Ragunan, Jakarta Selatan, Sabtu, 16 Januari 2021. Usai diresmikan oleh Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo pada 15 Januari kemarin, Agro Edukasi Wisata menjadi tempat alternatif liburan di akhir pekan bagi warga untuk memahami konsep urban farming, sekaligus edukasi mengenai sektor pertanian dan peternakan. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

TEMPO.CO, Kupang – Karantina Pertanian Ende, provinsi Nusa Tenggara Timur mencatat selama semester satu, bisnis hewan ternak antar daerah alami kenaikan dengan nilai transaksi mencapai Rp 81,8 miliar.
“Sampai dengan pertengahan Juli 2021 ini, pengiriman hewan besar seperti sapi, kerbau, kuda dan kambing dari Pulau Flores dan Lembata mencapai 27.962 ekor dengan nilai Rp 81,8 miliar,” kata Kepala Karantina Pertanian Ende, Konstan seperti dikutip dari ANTARA Kupang, Selasa, 20 Juli 2021.

Catatan itu berdasarkan pada data sistem perkarantinaan, Indonesia Quarantine Full Automation System-red (IQFAST) Karantina Pertanian Ende. Hewan ternak yang dilalulintaskan mengalami peningkatan jika dibandingkan pada periode yang sama bulan Juli 2020, Year on Year (YoY). “Kenaikan mulai dari 56,7 persen untuk lalu lintas tiap jenis hewan ternak besar ke daerah lain.”
Kostan menjelaskan jumlah ternak sapi yang dilalulintaskan mengalami peningkatan pada tahun 2021 yakni sebanyak 4.725 ekor dengan frekuensi 152 kali atau naik 56,7 persen yang pada tahun 2020 hanya 3.014 ekor dengan frekuensi 71 kali.
Kemudian kerbau dari 736 ekor dengan frekuensi 36 kali meningkat pada tahun 2021 menjadi 1.672 ekor dengan frekuensi 87 kali atau naik 127,7persen. Sementara Kuda dari 104 ekor dengan frekuensi 23 kali menjadi 360 ekor dengan frekuensi 70 kali atau naik 246,1persen.
Kemudian yang terakhir adalah hewan kambing dari semula 10.920 ekor dengan frekuensi 155 kali menjadi 21.205 ekor dengan frekuensi 481 kali atau naik 94,1 persen.
Hewan ternak itu dikirim ke beberapa wilayah di nusantara seperti Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat. Dan ia mengakui menjelang Idul Adha baik tahun 2021 dan tahun-tahun sebelumnya lalu lintas hewan ternak besar mengalami peningkatan.
“Kami melakukan pengawasan di tempat pengeluaran di seluruh wilayah Flores dan Lembata. Tindakan karantina dilakukan sebelum hewan dilalulintaskan, untuk memastikan komoditas asal sub sektor peternakan ini sehat, layak dan aman dikonsumsi oleh masyarakat,” imbuhnya.
Kostan menambahkan, bahwa pihaknya mendorong para peternak melalui kerja sama, pendampingan dan juga percepatan pelayanan tindakan karantina.
Ia pun mengajak agar pelaku agribisnis dan investor dapat bersama-sama menggerakkan subsektor peternakan di Pulau Flores, sehingga peternakan bisa lebih maju, mandiri, dan modern.

Kupang (ANTARA) – Pemerintah Nusa Tenggara Timur menyebutkan populasi ternak sapi yang berhasil dikembangkan para peternak sapi di daerah ini menembus satu juta ekor pada 2020.

“Populasi ternak sapi di NTT hingga tahun 2020 terus mengalami pertumbuhan yang signifikan sehingga mampu menembus 1 juta ekor,” kata Kepala Biro Humas dan Protokol Setda NTT, Marius Ardu Jelamu di Kupang, Kamis.

Ia mengatakan, Pemerintah NTT telah menetapkan sektor Peternakan sebagai salah satu sektor unggulan, karena memiliki kontribusi yang besar terhadap pembangunan ekonomi masyarakat.

Dia mengatakan, ternak sapi yang mencapai 1 juta ekor itu merupakan hasil usaha dilakukan peternak dan tujuh investor yang bergerak dalam usaha peternakan.

“Dengan satu juta ekor ternak sapi yang tersebar di seluruh kabupaten/kota di NTT itu merupakan suatu modal ekonomi untuk mengerahkan usaha ekonomi masyarakat NTT,” kata Marius.

Ia mengatakan, meningkatnya populasi ternak sapi di provinsi berbasis kepulauan ini berkat kerja keras pemerintah NTT yang terus mendorong peternak mengembangkan usaha ternak secara profesional dari sebelumnya lebih mengarah pada pola tradisional.

“Apabila sebelumnya ternak dibiarkan di padang tetapi saat ini sudah mulai pada pola peternakan yang lebih moderen dengan mengkandangkan ternak sehingga bobot ternak terus meningkat,”tegas Marius.

Marius optimistis dalam kepemimpinan Gubernur NTT, Viktor Bungtilus Laiskodat dan Wakil Gubernur, Josef Nae Soi pembangunan sektor peternakan akan bertumbuh dengan pesat karena berbagai inovasi untuk percepatan pembangunan peternakan terus dilakukan.

Marius menambahkan, pemerintah NTT juga sedang mempersiapkan pembangunan pabrik pakan ternak pertama di NTT guna mendukung pembangunan sektor peternakan. 

Pewarta: Benediktus Sridin Sulu Jahang
Editor: Ahmad Wijaya
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Nusa Tenggara Timur (BPTP NTT) mewujudkan dukungan terhadap program Kementerian Pertanian dalam kegiatan Hilirisasi Inovasi Teknologi Pertanian dengan Pendampingan Peternakan Sapi di Kabupaten Ngada, NTT. Kegiatan yang dilakukan pada 7-10 Juni 2021 yaitu pelaksanaan Baseline Survey untuk 5 (lima) desa, yaitu Desa Wolomese, Desa Wolomese 1 (Satu), Desa Ria, Desa Ria 1 (Satu), dan Desa Ngara. Lokasi Baseline Survey dilaksanakan di Kantor Desa Wolomese dan Desa Ria, Kabupaten Ngada, NTT yang terbagi dalam 5 (lima) kelompok tani. Pada kegiatan Baseline Survey ini dihadiri Darius Tuju, S.ST selaku Kasie Trantib mewakili Camat Riung Barat, Atanasius J. Lewgu selaku Kepala Desa Wolomese, Isak Gelan selaku Kepala Desa Ria, Dinas Peternakan Kab.Ngada (Martena, SP, Laurentina Laeng SP), Peneliti BPTP NTT (Ir. Debora Kana Hau, M.Si, Ir. Yohanis Ngongo, M.Sc, Ph.D, Yanuar Achadri, M.Sc), Ir. Medo Kote, M.Si (Penyuluh BPTP NTT), Agustinus Dule Mata (Kepala IPPTP Lili-BPTP NTT), PPL Dinas Peternakan Ngada, serta peserta baseline survey 50 orang petani.
Dalam sambutannya, Darius Tuju, S.ST mewakili Camat Riung Barat menyampaikan bahwa Desa Wolomese, Desa Wolomese 1 (Satu), Desa Ria, Desa Ria 1 (Satu), dan Desa Ngara saat ini telah mendapat bantuan dari Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) tahun 2020 berupa kandang ternak lengkap dengan instalasi biogas dalam Program 1000 Sapi untuk 5 Desa. Program ini dibangun 5 (lima) kandang / ranch di Kecamatan Riung Barat, masing-masing kandang diisi 200 ekor ternak sapi untuk pembibitan 100 ekor betina dan 100 ekor bakalan untuk penggemukan. Saat ini sapi masih dalam proses tender dan rencana akan masuk pada bulan Juli 2020. Kondisi kandang sudah mencapai pembangunan 80% dan persiapan pakan sebelum sapi masuk.
Ir. Debora Kana Hau, M.Si selaku Penanggungjawab Kegiatan sekaligus mewakili Kepala BPTP NTT menyampaikan bahwa kegiatan baseline survey ini bertujuan untuk mengenali dan menggali potensi peternakan yang ada di Kabupaten Ngada. Peran BPTP NTT sebagai institusi pengkajian dan diseminasi akan mendukung petani dalam bentuk pendampingan dan memberikan inovasi teknologi pakan berupa penanaman hijauan pakan ternak yaitu, lamtoro taramba, clitoria ternatea, dan rumput odot untuk persiapan pakan sebelum sapi masuk. Selain itu, setelah melakukan survey di lapangan maka diperoleh hasil bahwa bahan pakan potensial di daerah Riung Barat ini adalah Jerami / limbah pertanian. Maka dari itu, BPTP NTT akan memperkenalkan teknologi “Bank Pakan” kepada petani. Bank pakan adalah wadah berbentuk rak bahan bambu yang dipergunakan untuk menyimpan sekaligus menyajikan pakan sumber serat (hijauan kering) yang penyediaannya secara sistem stok. Bank pakan bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak sehingga ternak sapi dapat mengkonsumsi hijauan kering setiap saat sepanjang hari.
Dalam sesi diskusi, petani menyampaikan bahwa mereka sudah ada lahan untuk usaha pertanian salah satunya tanam jagung. Petani berharap kegiatan pendampingan peternakan ini dapat diintegrasikan dengan kegiatan Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS), sehingga hasil limbah jagung bisa dimanfaatkan juga untuk pakan ternak. Total luasan lahan yang dipersiapkan petani untuk program TJPS adalah 250 Ha. Ada 5 desa, sehingga masing-masing desa mempersiapkan lahan 50 Ha. Pada pertemuan berikutnya, kegiatan baseline survey ini akan dilanjutkan dengan Bimbingan Teknis untuk praktek inovasi teknologi pertanian langsung kepada petani. Harapan dari program pemerintah ini adalah untuk membangun NTT sebagai salah satu lumbung ternak di Indonesia dan ke depan Indonesia bisa ekspor sapi lokal untuk meningkatkan devisa negara. (Medo Kote/ Debora Kana Hau/ Yan Achadri)

========================================================================
Jln. Timor Raya Km. 32 Naibonat-Kupang-Nusa Tenggara Timur Tlp. : 08113893766; PO BOX : 1022; Kupang 85000;
Email : bptp-ntt@litbang.pertanian.go.id; Website : https://ntt.litbang.pertanian.go.id

KUPANG, TIMEXKUPANG.com-Dinas Peternakan (Disnak) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) selama sebulan penuh menggelar pelayanan kesehatan gratis untuk ternak sapi dan babi milik warga di wilayah Kota Kupang dan Kabupaten Kupang.

Pelayanan kesehatan itu berupa pemberian vaksin SE untuk ternak sapi baik jantan maupun betina juga penyuntikan vitamin B kompleks dan antibiotik kepada ternak babi yang sakit milik peternak di dua wilayah tersebut.

Selain itu, petugas Disnak juga melaksanakan penyemprotan disinfektan kandang babi secara gratis. Layanan gratis lainnya berupa komunikasi informasi dan edukasi kepada peternak agar tidak takut atau ragu memelihara ternak babi meski virus ASF pernah menyerang ternak babi milik masyarakat beberapa waktu lalu.

“Dalam rangka menyambut Bulan Bakti dan Pelayanan Kesehatan Hewan tahun 2021, kami melaksanakan vaksin SE, pembagian vitamin B dan desinfektan kandang babi yang pernah terinfeksi virus ASF secara gratis kepada masyarakat peternak di Kota Kupang dan Kabupaten Kupang,” kata Kepala Dinas Peternakan Provinsi NTT, Yohana E. Lisapally melalui Kabid Kesehatan Hewan, drh. Melky Angsar saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (9/9) pagi.

Menurut drh. Melky, sampai Rabu (8/9) sore, total ternak sapi, baik yang mendapat vaksin SE di Kota Kupang dan Kabupaten Kupang berjumlah 300 ekor. Sedangkan ternak babi yang mendapat suntikan vitamin B kompleks sebanyak 50 ekor.

“Sampai dengan kemarin (Rabu, 8/9, Red) kandang babi yang disemprot dengan disinfektan sebanyak 50 kandang. Target kami sampai 24 September mendatang ada 200 kandang diberi disinfektan. Artinya kalau satu kandang ada dua ekor babi saja maka kita sudah selamatkan 400 ekor babi dari serangan virus ASF dan penyakit lainnya,” kata drh. Melky.

Melky mengajak para pemilki kandang yang sudah mendapat disinfektan dari petugas peternakan agar tidak takut memelihara ternak babi karena kandangnya sudah dibersihkan dari virus ASF.

“Jangan takut memulai pelihara babi lagi karena saat ini kejadian babi mati hampir tidak ada lagi, bahkan Kota Kupang menurun sekali bahkan tidak ada laporan kasus babi mati karena ASF lagi,” katanya.

Melky menyebutkan, layanan gratis kesehatan hewan yang sudah dilakukan di Kabupaten Kupang dan Kota Kupang, menyasar kelompok Tani Kota Dale, Kelurahan Oesao, Kabupaten Kupang. Sedangkan Kota Kupang, sasaran kegiatan di wilayah Kelurahan Naikoten I, Penkase Oeleta, Nunbaun Sabu, Manulai II, Lasiana, dan Kelurahan Alak.

“Ada tiga tim, masing masing tim beranggotakan empat orang. Setiap hari mereka bergantian melaksanakan tugas vaksin suntik, vitamin B suntik antibiotik, disinfektan kandang babi juga suntik obat cacing sambil melakukan KIE kepada masyarakat agar kembali memelihara ternak babi seperti semula,” terangnya. (ogi)

Sumber : Timex Penulis : Frans Borgias Kollo – Editor

Marthen Bana

diterbitkan 10 September 2021 – 2:31pm