STRATEGI PENGEMBANGAN SISTEM PRODUKSI PETERNAKAN SAPI POTONG

STRATEGI PENGEMBANGAN SISTEM PRODUKSI PETERNAKAN SAPI POTONG UNTUK PENINGKATAN PRODUKTIVITAS DAN AKSESIBILITAS PEMBIAYAAN USAHA.

Sistem Produksi Peternakan Mengklasifikasikan dua tipe utama yaitu sistem tradisional dan modern. Beberapa pola sistem produksi peternakan melalui kombinasi dengan usaha pertanian lain telah diterapkan dan memberikan hasil positif dengan meningkatnya produksi. Pengembangan subsektor peternakan sapi potong di pedesaan, dewasa ini dirasakan semakin penting dan memiliki peranan yang sangat strategis. Berbagai masalah yang dihadapi peternak sapi potong selama ini dalam mendapatkan modal yang berasal dari lembaga keuangan formal, menyebabkan terhambatnya akselerasi penguatan skala usaha dan tidak berkembangnya sektor riil usaha peternakan sapi potong. Diperlukan skim pembiayaan (kredit) yang mampu mengakomodasi keperluan peternakan sapi potong yang sebagaimana diketahui memiliki siklus produksi yang cukup lama sehingga memerlukan kebijakan tenggang waktu angsuran awal dan penjadwalan angsuran kredit. Ketersediaan dan kemudahan pembiayaan dari perbankan akan sangat memacu percepatan sektor riil pada usaha peternakan sapi potong sehingga akan meningkatkan populasi sapi potong dan menciptakan pemberdayaan ekonomi masyarakat di pedesaan. Peningkatan produktivitas dan aksesibilitas pembiayaan dari perbankan untuk usaha peternakan sapi potong membutuhkan pengkajian karakteristik sistem produksi yang berbasis sumberdaya lokal.

Identifikasi sistem produksi peternakan sapi potong beserta rumusan strategi pengembangannya untuk peningkatan produktivitas dan aksesibilitas pembiayaan perbankan sangat dibutuhkan dalam upaya peningkatan pemberdayaan ekonomi masyarakat di pedesaan. Sistem Produksi Peternakan Sapi Potong dapat diklasifikasikan menjadi dua tipe utama yaitu sistem tradisional dan modern. Pengembangan sistem tersebut sangat potensial melalui penerapan sistem integrasi untuk meningkatkan nilai tambah produk. Sistem produksi di Indonesia dapat diklasifikasikan kepada satu dari tiga kategori yaitu (i). Lahan terbatas (landless), (ii). Berbasis tanaman budidaya (crop-based); dan (iii). Berbasis lahan penggembalaan (rangeland-based). secara umum sistem produksi peternakan Sapi Potong di wilayah Nusa Tenggara Timur merupakan peternakan tradisional berbasis lahan pengembalaan dengan jumlah kepemilikan ternak sedikit.

Peternakan memainkan peran banyak fungsi dan sangat berarti bagi usaha petani kecil. Ternak akan mengubah sumber daya alam berkualitas rendah menjadi produk yang sangat berkualitas berupa daging dan telur, berkontribusi mengontrol pertumbuhan gulma, dan menyediakan nutrien yang dibutuhkan oleh tanaman melalui produksi pupuk untuk meningkatkan kesuburan tanah.  Sistem pemeliharaan sapi potong pada wilayah dengan berbasis lahan pengembalaan menerapkan pola intensif maupun semi-intensif sangat umum dijumpai di NTT. Peternak yang tergabung pada kelembagaan kelompok tani ternak umumnya memiliki kandang kelompok dalam suatu kawasan. Keunggulan pemeliharaan pada kandang kawasan adalah aspek pengendalian kebersihan lingkungan lebih baik.

Pada wilayah penelitian, pemeliharaan sapi potong untuk tujuan menghasilkan pedet dilakukan pengandangan terpisah antar umur fisiologis ternak. Pemeliharaan sapi potong juga untuk menghasilkan kotoran yang digunakan sebagai pupuk.  Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa pada sistem produksi peternakan sapi potong sudah memanfaatkan sumber daya pakan lokal dan sebagian besar memelihara bangsa-bangsa lokal (Sapi PO dan SO) dengan menerapkan integrasi antara usaha peternakan dan pertanian yang saling menguntungkan.

Keterkaitan usaha peternakan sapi potong dengan tanaman pertanian/perkebunan pada sistem tersebut adalah pemanfaatan limbah pertanian/perkebunan digunakan untuk pakan sapi, sedangkan kotoran ternak sebagai pupuk tanaman. Karena ternak ruminansia sangat membantu dalam mengubah secara cepat sumber-sumber hayati berasal dari padang gembala, sisa-sisa limbah pertanian dan menjadi produk pangan yang bernilai tinggi untuk manusia.

Produktivitas dan Strategi Peningkatan Produktivitas Sapi Potong Usaha melalui usaha penggemukan, dan pembibitan. Secara umum, dasar pembibitan ternak dilakukan oleh pembibitan rakyat yang jelas tidak terstruktur, skala usaha kecil, manajemen sederhana, pemanfaatan teknologi seadanya maka peran pemerintah untuk mendorong usaha pembibitan rakyat. Permasalahan dalam industri perbibitan sapi potong antara lain (1) angka service per conception (S/C) cukup tinggi, mencapai 2,60; (2) calving interval terlalu panjang, dan (3) tingkat mortalitas pedet prasapih relatif tinggi mencapai 50%. Inefisiensi produktivitas sapi potong di Indonesia penyebab utamanya adalah keterlambatan estrus pertama postpartum. Hubungan antara kandungan nutrisi ransum dan cadangan energi tubuh induk mempengaruhi munculnya estrus, dan dapat dievaluasi melalui Body Condition Score (BSC). BCS juga berkorelasi dengan efisiensi perkawinan berulang, untuk optimalisasi produksi, evaluasi kesehatan dan juga mengevaluasi status nutrisi. Disarankan untuk adanya pemberian pakan tambahan ditentukan oleh kondisi tubuh induk. Pakan tambahan sebaiknya diberikan dua bulan “pre”- dan “post-partum” bila kondisi induk pada standar atau di bawahnya. Disarankan pakan tambahan “post-partum” bila kondisi induk di atas standar. Hubungan antara kandungan nutrisi ransum dan cadangan energi tubuh induk mempengaruhi munculnya estrus ini. Diupayakan agar setiap induk dapat “partus” setiap tahun maka ternak tersebut harus bunting dalam 90 hari “post-partum”. Estrus pertama “post-partum” harus sekitar 35 hari sehingga induk mempunyai kesempatan kawin dua kali sebelum bunting. 

Penilaian BSC dengan rentang skor 1 (kurus) sampai 9 (gemuk) merujuk kepada Parish and Rhinehart (2008). Penampilan BCS sapi pada wilayah NTT bervariasi tergsntung awilayah pengembalaan. BCS berkisar dari 3 sampai 6 untuk sapi bali, Peranakan Ongole dan Sumba Ongole dan 6 sampai 7 untuk sapi Persilangan Simmental dan brahman. Kondisi ideal BCS dipacu mencapai skor tinggi 7-9, sehingga memiliki konformasi perdagingan lebih tinggi dan potensi akan menghasilkan nilai jual lebih mahal.  Indikator BCS sangat penting untuk mengevaluasi pengelolaan dan dapat digunakan sebagai alat untuk mengoptimasikan produksi, mengevaluasi kesehatan dan status nutrisi. Petani sapi potong untuk tujuan penggemukan sangat memperhatikan pentingnya pemberian pakan konsentrat. Pakan konsentrat dapat berasal dari pencampuran bahan-bahan yang bersumber dari lokal setempat, serta memanfaatkan limbah pertanian maupun hasil agroindustri seperti dedak padi, dedak jagung, dan ampas tahu. pakan yang berkualitas baik dan diberikan dalam jumlah yang cukup akan meningkatkan produktivitas ternak.

Pengembangan Sistem Produksi untuk Pengembangan Usaha tergantung kepada tersedia lahan sebagai basis budidaya, tersedia agroekosistem, tersedia berbagai bangsa ternak, tersedia teknologi, tersedia pasar (lokal, regional dan nasional), tersedia skim pembiayaan untuk UMKM (KKPE, KUR, KUPS, CSR) dan program nasional (ketahanan pangan dan pengentasan kemiskinan dana APBN/APBD seperti PNPM, SMD, Dana Pembantuan, Penyelamatan Betina Produktif, Dana Insentif Sapi Bunting); dan tantangannya adalah kelembagaan kelompok peternak yang belum solid, beberapa teknologi belum diterapkan (utamanya breeding dan pakan). Koordinasi dan sinergi berbagai pihak sangat kurang; peluang usaha sapi potong adalah permintaan pasar (market demand) termasuk pasar ekspor, beragam produk (daging, pupuk).

Akses peternak kepada permodalan selama ini masih menjadi salah satu kendala untuk meningkatkan usaha peternak, sehingga secara umum mempengaruhi produktivitas. Lemahnya struktur modal peternak diakibatkan tidak adanya aset yang dapat dijadikan agunan, untuk itu revitalisasi pembiayaan perlu dilakukan melalui kerja sama dengan berbagai pihak, meliputi pemerintah pusat dan daerah melalui kementerian, departemen/direktorat maupun dinas teknis terkait, lembaga perbankan, lembaga perguruan tinggi dan institusi penelitian, dan lembaga asuransi, serta lembaga kemasyarakatan. Akses peternak kepada perbankan antara lain:

  • persyaratan jaminan, pada umumnya tidak memiliki sertifikat dan BPKB,
  • (ii) suku bunga (rate) atau margin masih relatif tinggi,
  • (iii) siklus produksi (gestation period),
  • (iv) analisis kelayakan, pada umumnya sangat lemah, dan
  • (v) kelembagaan kelompok relatif belum solid.

Pengembangan sistem produksi peternakan harus memperhatikan beberapa aspek sebagai berikut: (1) bangsa ternak, (2) sumber daya manusia peternak dan kelembagaan peternakan, (3) lahan sebagai basis ekologis budidaya ternak, dan (4) teknologi peternakan. Strategi perbaikan sistem produksi untuk peningkatan aksesibilitas terhadap lembaga perbankan dirumuskan dalam road map sebagai berikut: (i) potensi peternak individu ditingkatkan pengetahuan dan keterampilannya, (ii) peternak dihimpun dalam kelembagaan kelompok yang solid, (iii) fasilitasi teknologi terapan yang proven mencakup breeding management, housing, feeding system, good farming practices (untuk meningkatkan fisibilitas usaha), dan (iv) mediasi kepada lembaga perbankan (fasilitasi informasi dan akses pembiayaan kepada perbankan). Pada usaha peternakan yang sudah layak tetapi belum bankable Bankable berarti kita dapat memenuhi persyaratan Bank untuk mendapatkan kredit usaha. difasilitasi akses pada lembaga keuangan dengan penjaminan kredit maupun model tanggung bersama-sama dalam wadah kelembagaan kelompok.

Secara umum sistem produksi peternakan sapi potong di wilayah ntt. Untuk meningkatkan fisibilitas usaha dan daya saing direkomendasikan untuk menerapkan teknologi terapan yang terbukti sudah berhasil terutama pada budi daya sapi potong yang baik dan manajemen pakan yang baik melalui pemanfaatan sumber daya pakan lokal spesifik lokasi bersumber dari limbah pertanian maupun agroindustri. Dalam Melaksanakan budi daya sapi potong yang baik dapat mengacu kepada Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 46/Permentan/Pk.210/8/2015 tentang  Pedoman Budi Daya Sapi Potong Yang Baik.

Untuk meningkatkan akses pembiayaan kepada perbankan diperlukan sinergi berbagai pihak (pemerintah, akademisi, pebisnis, perbankan dan kelompok masyarakat) serta penguatan kelembagaan kelompok tani ternak sapi potong. 

Kelembagaan peternak merupakan wadah organisasi bagi peternak untuk melakukan aktifitas usaha agribisnis peternakan, mulai dari hulu sampai hilir, membangun koordinasi dengan stake holder terkait. Peranan kelembagaan peternak sangat penting dan strategis dalam rangka mewujudkan hubungan antara peternak dalam jaringan kerja sama dengan para stake holder untuk membangun dan memperkuat kelembagaannya, guna mendorong tumbuhnya usaha agribisnis peternakan yang lebih efisien, efektif dan berkelanjutan.

Penguatan kelembagaan peternak merupakan upaya untuk meningkatkan kapasitas kelembagaan peternak melalui perbaikan manajerial usaha, pengembangan dan diversifikasi usaha yang yang dibangun dalam satu kelembagaan usaha. Penguatan kelembagaan peternak diharapkan dapat memperkuat kemandirian masyarakat peternak dalam pembangunan peternakan yang berkelanjutan.

Upaya pemberdayaan peternak dan kelembagaan peternak yang berdaya saing tinggi, dilakukan melalui kebijakan penguatan kapasitas kelembagaan peternak menjadi penguatan kelembagaan ekonomi peternak yang diarahkan menjadi badan usaha milik peternak atau BUMP dalam bentuk koperasi ternak dan atau pembentukan perseroan terbatas dan lain-lain yang dapat meningkatkan status daya tawar peternak dengan berbagai pihak.

Setiap kelembagaan peternak memiliki peluang untuk membentuk dan mengembangkan lembaga peternak, namun demikian kelembagaan peternak harus terbentuk berdasarkan kebutuhan untuk mengembangkan kegiatan usaha. Setelah kelembagaan peternak terbentuk, maka diperlukan adanya fasilitasi berupa pendampingan oleh Dinas yang membidangi fungsi peternakan Kabupaten/Kota, Provinsi dan Pusat agar kelembagaan tersebut dapat berjalan secara profesional dan mampu mengembangkan diri menjadi lembaga peternak yang mandiri, serta meningkatkan usahanya sebagai lembaga usaha yang komersial. Hal-hal yang perlu di fasilitasi bagi kelembagaan ekonomi peternak, diantaranya:

  1. Penguatan kapasitas manajerial usaha kelembagaan ekonomi peternak.
  2. Pengembangan Jejaring dan kemitraan.
  3. Pengembangan pelayanan informasi, pemagangan dan pelatihan bagi calon kelembagaan ekonomi peternak.

Dalam rangka memperkuat kelembagaan kelompok peternak dan mendorong kemandirian usaha kelompok dengan membentuk koperasi yang berbadan hukum, kelembagaan peternak yang kuat memberikan peluang bagi peternak untuk mampu meningkatkan produktifitas dan nilai tambah usaha yang lebih optimal. Kemudahan akses informasi, teknologi, sarana dan prasarana, lembaga keuangan dan promosi untuk mendukung pengembangan usaha agribisnis peternakan. Kelembagaan yang kuat dapat menciptakan peluang yang lebih besar dalam mengakses sumber-sumber permodalan baik perbankan maupun pihak swasta.U ntuk memajukan usaha peternak para pelaku peternak perlu adanya langkah dan tindakan nyata dengan memotivasi kelompok peternak dan anggota kelompok untuk memiliki jiwa interpreuner (pelaku usaha) dan bukan sekedar memiliki pengetahuan budidaya ternak secara tradisional.

Para pelaku peternak masih sulit mengakses sumber permodalan khususnya dari pihak perbankan. Hal ini disebabkan karena beberapa hal yang menjadi syarat pihak perbankan, antara lain anggunan dan laporan keuangan kelompok peternak belum terpenuhi. Oleh karena itu pentingnya sosialisasi dan pelatihan bagi peternak dalam membuat laporan keuangan, dengan melibatkan pihak perbankan. Dalam masalah teknis Bank juga masih kurang memiliki pengetahuan yang memadai tentang pembiayaan usaha pertanian, khususnya peternakan, antara lain pada penghitungan kebutuhan pembiayaan debitur (plafon) dan pola cash flow usaha peternakan secara kesuluruhan. Oleh karena itu perlu juga ada peningkatan pengetahuan dan penyediaan informasi kepada perbankan terkait mengenai usaha peternakan.

Dalam rangka penguatan kelembagaan perlu adanya pembinaan dan bimbingan SDM secara menyeluruh, termasuk kelengkapan dokumen syarat pengajukan kredit sehingga kemandirian peternak lebih dapat terbangun baik teknis maupun administratif, karena kelembagaan peternak tidak cukup tanpa adanya pengetahuan administratif dan penguasaan akses pasar ternak dan produk ternak lainnya. Untuk menjaga kestabilan dan meningkatkan produksi agar mampu memasok kebutuhan nasional yang semakin melonjak. Wadah koperasi menjadi hal yang lebih mudah diwujudkan karena upaya-upaya pembinaan kepada peternak, perkuatan modal, hingga pendataan dan pemasaran ternak lebih mudah dikontrol.

Perlu meningkatkan penyebaran informasi tentang kredit program yang saat ini masih dirasakan kurang oleh kelompok peternak dan UMKM. Informasi tersebut bersumber dari bank maupun Dinas/Penyuluh. Oleh karena itu pentingnya koordinasi yang berkesinambungan dengan Dinas Peternakan atau Dinas yang membidangi fungsi peternakan di Daerah baik provinsi maupun kab/kota tentang mekanisme dan syarat pengajukan kredit.

Usaha peternakan adalah termasuk koperasi sektor riil, oleh karena itu penguatan kelembagaan melalui peningkatan partisipastif bagi anggota harus secara menyeluruh sehingga anggota kelompok peternak dapat bergabung dalam koperasi. Harapan kedepan dengan semakin meningkatnya kapasitas usaha peternak, semakin meningkatkan kesejahteraan peternak Indonesia. (admin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *