Waspada AFRICAN SWINE FEVER

Provinsi Nusa Tenggara Timur mempunyai potensi yang cukup besar dalam peternakan babi, sehingga perlu adanya upaya peningkatan kesehatan hewan dan produksi peternakan untuk meningkatkan populasi ternak babi selain memenuhi kebutuhan gizi, peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat. Tahun 2018 dilaporkan populasi ternak babi di Provinsi Nusa Tenggara Timur sebanyak 2.025.412 ekor yang menyebar di seluruh kabupaten di wilayah Nusa Tenggara Timur
Penyakit African Swine Fever (ASF) adalah penyakit virus menular yang menyerang ternak babi. Penyakit ini disebabkan oleh African swine fever virus (ASF) DNA, berasal dari Asfarviridae Family dan genus Asfivirus. Wabah ASF dimulai dari Tiongkok kemudian merebak di kawasan Asia pada Awal Tahun 2019 (berdasarkan laporan FAO tentang ASF stuation in Asia update 22 August 2019), laporan kejadian di Filipina tanggal 23 Agustus 2019 peningkatan kematian temak babi mencapai 20% yang terduga African Swine Fever, risiko masuknya ASF ke lndonesia semakin besar karena Indonesia adalah salah satu Negara di asia yang berbatasan dengan negara-negara tertular. Selanjutnya Laporan Organisasi Kesehatan Hewan Dunia OIE tanggal 27 September 2019 Penyakit ASF sudah positif menginfeksi ternak babi di Negara Republic Demokrat Timor Leste (RDTL). Negara RDTL berbatas langsung dengan Provinsi Nusa Tenggara Timur, risiko masuknya ASF ke lndonesia melalui Pulau Timor dan Pulau Alor semakin besar karena lalulintas darat dan laut setiap hari sangat intens di wilayah ini.
Pemerintah Indonesia mewaspadai penyebaran wabah penyakit hewan African Swine Fever (ASF), dan untuk meningkatkan kewaspadaan dini Direktur Kesehatan Hewan telah menetapkan kebijakan yang ketat terhadap importasi babi hidup dan produk-produk daging babi, terutama dari negara-negara yang tertular ASF melalui surat edaran Tangal 30 Agustus 2019 Nomor 30062/PK.310/F/08/2019 tentang Peningkatan Kewaspadaan terhadap African Swine Fever (ASF). Hal ini sejalan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dan kepada pemangku kepentingan terkait untuk memastikan langkah pemusnahan yang tepat dari sisa-sisa makanan yang berasal dari pesawat udara, kapal laut atau kendaraan yang datang dari negara-negara tertular ASF. Sebabnya, virus ASF tahan hidup dalam daging babi yang telah diasap, diberi garam atau makanan kurang matang. Karena sisa daging babi dan bahan mengandung babi mudah menularkan penyakit ini. Sehingga disarankan kepada peternak, agar tidak memberikan sisa-sisa makanan dapur atau sampah yang mengandung daging babi atau produk daging babi yang kurang dimasak atau tidak dimasak kepada babi piaraan. Apabila langkah-langkah tersebut kita bisa jalankan dengan benar dan sistem surveilans bisa dilaksanakan dengan tepat, maka populasi babi di Indonesia yang berjumlah 8 juta ekor lebih dapat kita lindungi dari ancaman ASF.
Hal yang sangat mengancam terhadap penyakit African Swine Fever adalah sampai saat ini belum ditemukan vaksin anti-ASF dan tidak ada pengobatan apabila sudah terjadi kasus. Satu-satunya cara untuk mencegah penyebaran dan mengendalikan kasus apabila sudah terjadi adalah dengan cara memusnahkan babi-babi tersebut dan biosecuriti yang ketat agar tidak menyebar lebih luas. Kemampuan deteksi dini penyakit hewan sangat diperlukan agar penyakit ASF segera tertangani dan tidak sampai menimbulkan kerugian ekonomi yang besar. Biosekuriti adalah strategi utama untuk mencegah terjadinya ASF di peternakan-peternakan babi di Indonesia. Perlu pembekalan pengenalan penyakit bagi peternak dan petugas kesehatan hewan. Dengan mengenali tanda-tanda itu, langkah cepat penanggulangan dapat dilakukan. Deteksi cepat, pelaporan cepat, dan respon cepat diperlukan untuk bisa mencegah penyebaran penyakit. Virus ASF mampu bertahan hidup pada produk daging babi segar, daging yang diolah dengan pengasapan maupun makanan yang kurang matang.
Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan salah satu daerah dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berbatasan langsung dengan Negara Timor Leste perlu meningkatkan kewaspadaan dini untuk mencegah penyakit ini masuk dan menyebar di wilayah ini. Provinsi Nusa Tenggara Timur perlu segera melakukan tindakan pencegahan sesuai dengan Instruksi Gubernur Nusa Tenggara Timur Nomor 001/Disnak/2019 Tanggal 13 Oktober 2019 tentang Pencegahan Penyebaran Penyakit African Swine Fever (ASF) di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Yang dimaksud dengan pencegahan penyebaran penyakit African Swine Fever (ASF) adalah mencegah masuknya ke Provinsi Nusa Tenggara Timur dan kewaspadaan dini potensi penyebaran penyakit ASF antar wilayah dalam Provinsi Nusa Tenggara Timur. (admin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *